Kali ini kami akan ulas terkait dengan hakikat kekayaan dalam Islam yang perlu diketahui. Kekayaan sesungguhnya bersifat relatif, tergantung dari sudut pandang mana seseorang akan melihat, keyakinan bagaimana yang ia pegang, motivasi apa yang mendorongnya, dan tujuan apa yang akan ia raih. Sesuai dengan alasan ini, maka setiap orang yang ingin meraih kekayaan di dalam kehidupan dunia harus meletakkan harapan dan dugaan mereka secara proporsional, betapapun rasionalnya harapan dan dugaan itu.

Hakikat Kekayaan dalam Islam

Hakikat Kekayaan dalam Islam

Kalaupun kita yakin bahwa kekayaan ada di pihak kita, ketika kita pergi ke “pasar”, ini berarti kita meminta pihak lain untuk menafsirkan realitas kita. Yang Anda pikir dan percayai sebagai “kekayaan” akhirnya dapat berubah menjadi soal uang, harta benda, dan materi lainnya. Ini karena uang, harta benda, dan materi sering kali membius pikiran yang paling cerdas dan berkualitas sekalipun, sehingga mampu membentuk opini yang relevan dan tampak sebagai kekayaan yang paling hakiki di mata mereka yang tertipu.

Di sini akan diuraikan hakikat kekayaan menurut sudut pandang Islam yang mencakup

  • makna kekayaan lahir,
  • makna kekayaan batin,
  • ukuran untung dan rugi secara hakiki, serta
  • kewajiban-kewajiban manusia terhadap harta.

Namun di artikel ini hanya akan membahas mengenai ukuran untung dan rugi secara hakiki. Untuk pembahasan lainnya akan dibahas di artikel selanjutnya. Oleh karena itu selalu kunjungi web kami ini karena artikel akan selalu diupdate.

Ukuran Untung dan Rugi Secara Hakiki

Kualitas yang kita tetapkan mengenai kadar untung dan rugi sangat dipengaruhi oleh cara kita berpikir, berperasaan, berkeyakinan, dan bersikap dalam membuat skala prioritas di dalam aktivitas kehidupan kita.

Akan tetapi, orang cerdas saat ini pun terkadang belum mampu membawa dirinya untuk memasuki Zona untung dan rugi menurut Allah dan Rasul-Nya, karena garis batas terjauh dari untung dan rugi yang dia tetapkan masih terhenti pada interpretasinya sendiri yang tidak lengkap atau karena menerima informasi yang terpotong-potong.

Sesungguhnya, bila manusia berpikir bahwa kehidupannya tidak berhenti hanya di dunia saja, melainkan akan menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat kelak, maka ukuran untung rugi semestinya diperhitungkan dari dua hal tersebut. Dalam hal ini, marilah kita renungkan firman Allah berikut:

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petuniuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 16).

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirai.” (QS. asy-Syuura [42]: 20).

Kita lihat dalam sejarah sahabat Nabi Saw., betapa mereka memahami untung dan rugi ini secara hakiki, yakni demi surga-Nya. Utsman bin Affan Ra., misalnya, dengan bahagia ia banyak menggunakan harta bendanya untuk membeli Surga-Nya.

Pada suatu hari, ketika beliau mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa menyediakan perbekalan untuk sepuluh orang tentara maka baginya adalah surga.” Utsman bin Affan pun bersegera menyiapkan perbekalan untuk sepuluh orang tentara Islam. Dan, di lain kesempatan, ketika beliau mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa membeli sumur Raumah maka baginya adalah surga.” Maka ‘Utsman pun membeli sumur Raumah tersebut.

Tinjau Ulang

Maka, lakukan peninjauan ulang atas sikap Anda terhadap pembangunan kualitas diri. Apakah Anda telah optimal melakukannya? Apakah pola berpikir Anda cukup luas untuk memberi ruang masukan yang baik dan cukup beragam untuk menantang isi, nilai, lingkup, dan kualitas untung atau rugi yang Anda pikirkan dan yakini selama ini?

Ya Allah, Yang Maha Memiliki segalanya. Mudahkanlah kami dalam menggapai rezeki-Mu. Jadikanlah harta yang telah Engkau titipkan kepada kami sebagai jalan menggapai ridha, cinta, dan perjumpaan dengan wajah-Mu Yang Agung. Amin.

Sekian info berkaitan dengan hakikat kekayaan dalam Islam yang perlu diketahui, kami harap artikel kali ini membantu kalian. Tolong artikel ini dibagikan supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Post not found !