Pembahasan kita kali ini yakni meneladani nabi muhammad sang ekonom ulung. Membahas, berdiskusi, atau mendengar ceramah tentang perikehidupan Nabi Muhammad Saw. dari segi ketauhidan (teologi), kejujuran, kesederhanaan, toleransi, apalagi ketaatan beribadah adalah sesuatu yang sering kita dengar. Setiap kali ceramah agama digelar, khususnya peringatan maulid (kelahiran) Nabi Muhammad Saw., sifat dan akhlak mulia beliau pasti menjadi tema utama.

Meneladani Nabi Muhammad

Meneladani Nabi Muhammad Sang Ekonom Ulung

Tentu telah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu me­refresh diri mendengar keteladanan Rasulullah dalam segala aspek kehidupan. Beliau adalah manusia agung dan paripurna yang menjadi panutan setiap insan di muka bumi.

Akan tetapi, tidak fair kiranya jika mengkaji dan meneladani Nabi Muhammad hanya dari aspek di atas. Sulit dan jarang sekali terdengar dalam khotbah atau ceramah, kecuali di kota­kota besar, kampus, dan seminar yang membahas keteladanan Nabi Muhammad Saw., bahwa beliau ternyata juga seorang ekonom. Padahal, sebagai ekonom, uswah hasanah Nabi Muhammad juga sangat relevan dan patut untuk dikaji, dieksplorasi, serta direlevansikan dalam konteks kekinian.

Betapa tidak, krisis ekonomi global (global economic crisis) yang sedang melanda dunia saat ini, karut­marutnya sistem perekonomian negeri ini, harusnya membuka mata kita semua untuk menggali lebih dalam serta mencontoh keberhasilan peradaban ekonomi yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad, Sang Ekonom Sejati

Nabi Muhammad sebagai ekonom bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Semakin kita menelusuri perikehidupan Muhammad Saw., justru semakin terkuaklah uswah hasanah beliau dalam bidang ekonomi. Keteladanan beliau dalam bidang ekonomi seyogianya menjadi rujukan dan landasan kebijakan ekonomi. Baik dalam hal kebijakan fiskal maupun moneter, dan sejumlah persoalan ekonomi kontemporer dewasa ini.

Untuk menyebut Nabi Muhammad Saw. sebagai ekonom ulung dan patut ditiru jejak langkahnya, tentu kita harus tahu sepak terjang beliau sebagai pelaku pasar. Beliau bisa dijuluki ekonom ulung karena beliau mampu memberi uswah hasanah dalam hal perekonomian umat. Beliau tidak sekadar berteori dalam hal perekonomian umat, tetapi juga sudah terbukti sukses dalam ranah praksisnya.

Sistem ekonomi Islam yang dibawa beliau telah dipraktikkan dalam rekam jejak serta diteorisasikan dalam sabda­sabda beliau yang telah sampai kepada kita. Pendeknya, Muhammad Saw. sungguh telah berhasil sebagai ekonom, sebagai bussinesman dalam tataran praktis, juga sebagai cendekia dalam tataran teori.

Dalam tataran praktis, dunia bisnis telah beliau lakoni sejak usia kanak­kanak. Awal karier Muhammad sebagai pedagang telah dirintis sejak usia 12 tahun bersama pamannya, abu Thalib. Tak tanggung­tanggung, jiwa entrepreneur­nya telah dipicu dengan suasana perdagangan pada skala internasional hingga ke beberapa negara, seperti Suriah, Yordania, dan lebanon.

Bayangkan saja, saat usia belasan tahun itu, Muhammad telah menjadi pengusaha yang mandiri serta mampu bersaing dengan pengusaha kelas kakap yang sangat berpengalaman. Saat itu Muhammad tidak hanya berhasil memenuhi kebutuhan hidup dengan kondisi kehidupannya yang sangat serba terbatas.

Apalagi sebagai anak yatim piatu, tetapi ia juga telah berhasil memiliki reputasi yang tinggi di antara para pedagang saat itu. Puncak kariernya adalah saat ia melakukan kerja sama dagang dengan Khadijah, yakni melakukan ekspansi usaha ke beberapa negara di Timur Tengah, seperti Yaman, Bahrain, dan Oman.

Karier Bisnis Rasulullah

Aktivitas bisnis Rasulullah Saw. berlangsung hingga beliau berumur 37 tahun. Jika kita hitung karier Muhammad Saw. sebagai pedagang dari usia 12 tahun hingga 37 tahun, berarti karier bisnis Muhammad dilakoni selama 25 tahun. Tentu bilangan ini lebih panjang dari masa tugas kerasulannya yang hanya 23 tahun, yakni dari umur 40 tahun hingga 63 tahun.

Menobatkan Muhammad sebagai ekonom dapat kita lihat dalam teori­teori ekonomi yang disampaikan beliau, baik dalam konteks saat ia menjadi pedagang, maupun saat ia menjadi regulator atau pengambil kebijakan (policy) dalam pemerintahan saat itu. Tentu teori ekonomi yang disampaikan sangat terkait dengan konteks saat itu dan bersifat umum, sebab sebuah teori harus dapat mengakomodasi segala persoalan dan kondisi perekonomian yang terus berkembang.

Berikut beberapa teori ekonomi dalam meneladani Nabi Muhammad sang Ekonom yang akan kita bahas secara singkat.

Asas Kepercayaan

Pertama, ekonomi harus dibangun atas dasar asas trust (kepercayaan, kejujuran) yang menjadi value driven business (nilai berjalannya bisnis). Dasar inilah yang menjadikan Muhammad berhasil dan dikagumi semua pedagang dan konsumen.

Menurut seorang hakim, Rabi bin Badr, Thalhah bin ubaidillah adalah seorang budak yang pernah melakukan kerja sama dagang dengan Nabi Muhammad Saw. Ketika suatu hari mitra dagang Rasulullah Saw. itu menemuinya, Nabi lalu mengatakan, “apakah engkau mengenalku?” Ia menjawab, “Kau pernah menjadi mitraku dan engkau adalah mitra yang paling baik sebab engkau tidak pernah menipu dan berselisih denganku.”

Dengan modal kejujuran inilah, Nabi Muhammad Saw. lalu dikenal dan disayang oleh mitra dagang serta menghasilkan laba yang berlipat. Setidaknya, tercatat bahwa hasil penjualan dagang Rasulullah Saw. di Pasar Busra itu dua kali lipat daripada pedagang lainnya.

Mengingat pasar adalah tempat peredaran uang yang paling besar, maka peluang dan godaan untuk melakukan penipuan tentu sangatlah besar. Untuk itu, Rasulullah Saw. pun memotivasi kepada para pedagang agar berlaku jujur dalam berbisnis. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Pedagang yang beramanah dan dapat dipercaya itu akan bersama orang­orang yang mati syahid” (HR Ibnu Majah).

Teori Pasar

Kedua, dalam ekonomi mikro, yakni dalam sistem pasar, Muhammad telah mengeluarkan teori pasar dengan memberi beberapa rambu untuk menjaga pasar agar tidak terdistorsi. Sebagaimana kita ketahui, fungsi pasar adalah hal terpenting dalam kegiatan ekonomi. Sistem pasar yang baik harus berdasarkan prinsip keadilan.

Pasar menjadi adil jika pasar telah bebas dari praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Norma ini telah disebutkan dalam beberapa hadis beliau, “Barang siapa melakukan monopoli, maka dia adalah pendosa” (HR Muslim). “Barang siapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka Allah akan berlepas darinya” (HR ahmad).

Rasulullah Saw. juga melarang keras terhadap penetapan harga. larangan ini telah dicontohkan Rasulullah Saw. pada sebuah pasar ketika harga­harga melambung tinggi. Kondisi harga yang tidak stabil itu menjadikan para sahabat kesulitan sehingga menimbulkan niat mereka untuk mengusulkan kepada Rasulullah menetapkan harga.

Namun, secara tegas Rasulullah melarangnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah­lah yang telah menetapkan harga, menahan serta melapangkan dan memberi rezeki dan sesungguhnya aku berharap bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak seorang pun daripada kalian menuntut aku karena perbuatan zalim terhadap jiwa atau tentang harga (barang­barang)” (HR Abu Dawud dan enam imam hadis kecuali Nasa’i).

Tak hanya itu, Muhammad Saw. juga mencontohkan langkah preventif terhadap cara­cara pencegatan barang komoditas untuk masuk ke pasar. Bahkan, tak jarang Rasulullah langsung terjun sendiri untuk mengadakan kontrol pasar dalam rangka memeriksa kualitas barang dagangan yang beredar di pasar.

Sistem Mekanisme Pasar

Ketiga, sistem konsumsi, produksi, dan distribusi. Muhammad Saw. mengajarkan sistem konsumsi yang egalitarian. Bahkan, anjuran konsumsi tidak hanya dibatasi pada kebutuhan pokok, tetapi juga mencakup kesenangan dan bahkan barang mewah, tentu dengan batasan­batasan yang halal, baik (thoyyib), dan tidak berlebih­lebihan (israf). hal ini menunjukkan bahwa konsumsi yang dilakukan tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk berjalannya mekanisme dan gerak pasar.

Dalam hal produksi, satu hadis yang sangat fundamental disebutkan, “Orang-orang harus berusaha mencari nafkah yang halal untuk keluarganya, sebab mencari nafkah adalah bagaikan berjihad di jalan Allah” (HR Thabrani). Dalam hadis lain disebutkan, “Ada dosa­dosa tertentu yang dapat ditebus hanya dengan perjuangan yang terus­menerus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi” (HR Thabrani).

Sedangkan dalam hal distribusi, Rasulullah sangat menekankan tentang pentingnya keadilan distribusi. Rusaknya sistem pasar dikarenakan praktik monopoli yang menyebabkan harta hanya terkonsentrasi bagi satu orang atau golongan tertentu. Rusaknya sistem pasar ini telah ditegaskan allah dalam al­Quran, … agar harta itu jangan hanya berputar di kalangan orang kaya di antara kamu sekalian (QS al­hasyr [59]: 6).

Keteladanan Rasulullah Saw. sebagai ekonom tidak hanya dalam bidang yang disebut di atas saja, tetapi beliau juga dikenal sebagai pengatur persoalan agrobisnis sebagaimana ia terapkan kepada masyarakat Madinah yang agraris, konsep ketenagakerjaan, penanaman permodalan (investasi), hingga badan usaha.

Hukum Bisnis ala Nabi

Melihat betapa sempurnanya sosok Muhammad Saw. sebagai sang ekonom, tak heran jika saat itu (secara langsung ataupun tidak langsung) telah terjadi pergeseran hukum bisnis jahiliah kepada hukum bisnis ala Muhammad. Sebab, hukum bisnis yang diterapkan Muhammad secara jelas telah berhasil dan terbukti mampu mengubah kondisi perekonomian Madinah dan umat Islam saat itu.

Oleh karena itu, alangkah strategisnya bagi kita jika kita dapat menangkap pesan maulid dengan cara menggali dan mencontoh kehidupan bisnis Rasulullah Saw. Krisis global dan kegagalan ekonomi yang sedang kita alami sungguh berangkat dari ketidakmauan kita untuk menjadikan Muhammad sebagai “patron” dalam berekonomi.

Semakin menggali perikehidupan Rasulullah Saw. dalam bidang ekonomi, semakin terbukalah keteladanan beliau. Yaitu sebagai Rasulullah yang wajib dan sangat pantas ditiru untuk kesejahteraan umat manusia. Allah sendiri berfirman, Dan tidak akan Aku utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam (QS al­anbiya [21] : 107).

Demikian info terkait dengan meneladani Nabi Muhammad sang ekonom ulung, semoga post ini membantu Anda. Mohon post ini dibagikan supaya semakin banyak yang mendapatkan manfaat.

Referensi:

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Post not found !